Contact Twitter Facebook
Hub. Kami +62 21 2972 5488

01 Jul
Model Tray 45 cell Massgro Pada Fase Kecamba

Model Tray 45 cell Massgro Pada Fase Kecamba

Indonesia harus bersyukur memiliki potensi iklim yang baik untuk ditanami jenis beberapa komoditi pertanian, terlebih komoditi yang biasa dijadikan sebagai makanan pokok sehari-hari. Tebu salah satunya.

Tebu adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula dan vetsin. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Kemampuan berumur mencapai kurang lebih 1 tahun.Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra.

Banyak manfaat yang dihasilkan dari tanaman berjenis rumput ini. Tebu dapat menghasilkan biomassa yang mempunyai nilai kalori cukup tinggi. Biasanya digunakan sebagai bahan bakar memasak. Tebu juga bisa digunakan untuk bahan bakar boiler sebagai pembangkit listrik, dan juga yang paling famliar, air perasan tebu yang menjadi pelepas dahaga.

Potensi membumi dan komersial seperti dimiliki tebu menjadikan perkembangan komoditi ini menjadi stimulus munculnya inovasi yang berkaitan dengan peningkatan produksi. Seperti yang akan dibahas pada salah satu buku jurnal yan dikeluarkan oleh Media Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan. Dalam buku setebal 129 halaman, kita akhirnya menjadi tahu 4 pilar utama cara meningkatkan produktivitas.

Empat pilar utama tersebut antara lain Pembibitan, Sulaman / sisipan, Pemupukan dan Manajamenen akar.

Tray Massgro    A.Pembibitan
pada pilar ini pembibitan cukup dengan pembibitan pola baru, 3 tahap pembibitan yang biasa        dikenal :
1. Pembibitan cukup (suatu pembibitan tingkat litbang)
2. Pembibitan Perbanyak (di lapang)
Sebagai upaya penekanan biaya produksi bibit, maka jarak tanam (PKP)
disesuaikan dengan umur panennya sekitar 80-90cm. Syarat bibit harus diperhatikan seperti        kemurnian, sehat dan berdaya tumbuh tinggi.

Seleksi bibit harus diarahkan pada tingkat rendemen, berat batang per/m, jumlah anakan, tinggi batang , tingkat kerobohan, ketahanan terhadap hama/penyakit dan adaptasi.

B.Sulaman/Sisipan
Meningkatkan jumlah tanaman, agar sesuai degan norma yakni 100.000 batang/ha dengan cara :

1.Menanam dengan bibit yang baik dan seragam (1) dengan jumlah yang cukup.
2.Sulaman pada plant cane dilakukan pada bulan ke-2, pada saat tunas telah tumbuh dengan bibit yang telah disipakan dalam pottray.
3.Sulaman/sisipan tanaman tebu pada Ratoon, dilaksanakan segera setelah tebang dengan bibit pottray. Bibit dalam pottray belum biasa digunakan dalam tanaman tebu, namun hal ini dapat dilaksanakan tanpa ada kesulitan. Bibit disiapkan oleh masing-masing petani.

C. Pemupukan
Memperbaiki teknik pemupukan dan pembuatan rekomendasinya dengan 5T :
1.Dalam menentukan rekomendasi pemupukan, dilakukan teknik analisa daun yang dilengkapi dengan percobaan pemupukan untuk mencari titik efisiensi ekonomi secara riil.
2.Memperbanyak frekuensi pemupukan agar penyerapan hara lebih baik.
3.Memperhatikan T lainnya seperti tepat cara, tepat waktu, dan tepat jenis.
4.Menggunakan pupuk organic yang mengandung mikroba pelarut hara untuk “menghidupkan tanah” kembali.

Kondisi AkarD.Manajemen Akar
Melaksanakan manajemen akar dengan baik dapat mendukung peningkatan produktivitas. Caranya antara lain:
1.Pembumbunan (Penutupan akar oleh tanah).
2.Memutuskan akar untuk merangsang perakaran baru.
3.Memotong bekas tebangan serapat mungkin dengan tanah, untuk menghindari “akar gantung”.

Ada hal yang paling penting dalam memperlakukan akar tanaman, terutama tebu. Merawat akar agar tumbuh sebaik mungkin memerlukan perhatian lebih karena seperti yang kita ketahui dalam prakteknya tidak terlalu mudah dilaksanakan terutama yang menggunakan mekanisasi penuh.

Waktu paling tepat melaksanakan perawatan akar adalah pada umur 0-3 bulan dan dapat diperpanjang sampai umur 5 bulan sesuai kondisi dilapangan.Perawatan akar ini minimal dapat menjaga kondisi akar agar tetap dapat berkembang denga baik, misalnya dengan pemberian mulsa.

Tebu saat ini masih dijastifikasi sebagai tanaman semusim. Padahal saat ini tebu sudah menjadi tanaman tahunan. Tinggal bagaimana kita merubah paradigm dasar kita bahwa benar-benar tanaman tahunanan yang mana, hasil yang dicapai akan maksimal jika kita tahu bagaimana cara merawatnya.

Jika selama ini petani mengeluh harus menanam pada lahan yang mendekati basah, kini tebu bisa ditanam pada lahan kering. Tinggal bagaimana kita melaksanakan teknis agronomis yang baik. Pada teknisnya, teknis agronomi ini tentu akan memuaskan dan lebih cepat terlihat, apabila usaha ini dilakukan secara intensif.

Keterangan :
Ratoon adalah sisa tanaman haruslah ditinggalkan, karena potensi produktivitas ratoon lebih besar dari plant cane. Ratoon perlu perencanaan jangka panjang (minimal 5 tahun) terutama dalam pencapaikan produksi.


One Response to 4 Terobosan Peningkatan Produktivitas Penerimaan Tebu Rakyat

  1. Pingback: Kemarau, dan Irigasi yang Mengering « MassGro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.